RunSight
ID

Riset

Semua berawal dari seorang teman bernama Dimas.

Tiap model, instruksi, dan braket cetak di situs ini berpangkal pada dua belas sesi riset dan lima belas masalah yang diceritakan orang kepada kami.

Dimas mengalami kehilangan penglihatan akibat katarak dan menyukai olahraga sejak kecil. Pengalamannya menunjukkan bahwa akses latihan rutin sering kali lebih ditentukan oleh ketersediaan pemandu daripada motivasi.

Di Indonesia, 22,97 juta orang hidup dengan disabilitas, dan sekitar empat juta di antaranya tunanetra. Hanya 11,6% penyandang disabilitas yang rutin berolahraga, terhadap target nasional 15% pada 2029. Di antara perempuan penyandang disabilitas, 93% tak pernah ikut olahraga formal sama sekali.

Di lintasan umum, pelari yang tak bisa melihat lajur membutuhkan pemandu: seseorang untuk menjaga pace, memberi tahu tikungan, dan menjauhkannya dari tabrakan. Orang itu harus tersedia, cukup bugar, dan bersedia. Ketika tidak, latihan pun berhenti.

Lintasan lari merah Stadion Patriot Candrabhaga, dilihat dari sudut pandang pelari
Stadion Patriot Candrabhaga, tempat dataset dikumpulkan.

Kesenjangannya

22.97M

orang hidup dengan disabilitas di Indonesia (2023)

~4M

di antaranya tunanetra

11.6%

penyandang disabilitas rutin berolahraga

93%

perempuan penyandang disabilitas tak pernah ikut olahraga formal

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2023; Survei Sosial Ekonomi Nasional; dan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perempuan penyandang disabilitas.

Dua belas sesi. Lima belas keluhan. Empat tema.

Kami mewawancarai dan mengamati pelari tunanetra dan lemah penglihatan, lalu mengelompokkan apa yang mereka ceritakan. Empat tema ini menjadi tolok ukur yang menilai produknya, termasuk yang belum kami penuhi.

  • Navigasi & keselamatan fisik

    Rintangan dan tepi lajur belum terdeteksi cukup andal untuk dipercaya pada tempo lari.

  • Aksesibilitas & umpan balik

    Instruksi suara yang datang lebih dari setengah detik terlambat lebih buruk daripada tidak ada. Kebanyakan antarmuka pun belum ramah pembaca layar sejak awal.

  • Kinerja real-time

    GPS saja meleset 5–10 meter, dan statistik latihan tidak sinkron antarperangkat.

  • Ergonomi, daya & biaya

    Lebih dari 350 gram, kurang dari dua jam baterai, lebih dari empat juta rupiah. Tiga alasan sebuah alat bantu berakhir di laci.

Hal yang perlu dibuktikan melalui uji berikutnya.

Ini adalah sasaran validasi untuk pengujian mendatang, bukan hasil dari pelari tunanetra.

latensi instruksi, dari kamera ke suara
≤ 0.3s
IoU lajur dan rintangan pada uji lapangan, lebih dari 10.000 deteksi
≥ 80%
pengguna yang menyelesaikan lari 3 km di lintasan umum tanpa pemandu, setelah masa adaptasi enam minggu (target 2027)
≥ 70%
pengurangan tabrakan dan tersandung terhadap dasar uji awal kami
≥ 80%

Validasi lapangan bersama pelari tunanetra belum berlangsung.

Penghargaan

  • Samsung Solve for Tomorrow

    Global Ambassador

  • Samsung Solve for Tomorrow

    20 Besar Dunia

  • Samsung Solve for Tomorrow Indonesia

    Juara 1 & Pilihan Penonton